my destiny

My Photo
arifluqman85
.>seterusnya akan tertegak kembali khilafah atas minhaj kenabian"
View my complete profile

Monday, 1 February 2010

Suatu penjelasan


PENGGUNAAN NAMA ALLAH OLEH GOLONGAN BUKAN ISLAM: SUATU PENJELASAN…

“BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM”
"Dengan nama Allah, Yang Maha Murah, lagi Maha Penyayang."
Itu lah ayat pertama dalam Al-Quran. Ayat Pertama dalam Surah Al-Fatihah.

Artinya, aku mulailah pekerjaanku ini, menyiarkan wahyu Ilahi kepada manusia, di atas nama Allah itu sendiri, yang telah memerintahkan daku menyampaikannya. Inilah contoh teladan yang diberikan kepada kita, supaya memulai suatu pekerjaan penting dengan nama Allah. Laksana adat bagi suatu kerajaan bila menurunkan suatu perintah, menjadi kuatlah dia kalau dia disampaikan "di atas nama Penguasa Tertinggi", “Atas nama Seri Paduka Baginda Yang DiPertuan Agong”, atau “Atas nama Perdana Menteri” atau ketua negara, sehingga jelaslah kekuatan kata-kata itu yang bukan atas kehendak yang menyampaikan saja, dan nampak pertanggunganjawab. Nabi Muhammad s.a.w. disuruh menyampaikan wahyu itu di atas nama Allah. Dia Muhammad, Rasul Allah itu, tidaklah lebih dari manusia biasa, tetapi ucapan yang keluar dari mulutnya bukanlah semena-mena atas kehendaknya sendiri, tetapi Allah lah yang memerintahkan. Dari yang empunya nama itu dia mengambil kekuatan.

ALLAH, adalah Zat Yang Maha Tinggi, Maha Mulia dan Maha Kuasa. Zat Pencipta seluruh alam, langit dan bumi, matahari dan bulan, dan seluruh yang ada segala isi langit dan bumi. DIA adalah yang “wajibul wujud”, yang sudah pasti ADA, yang mustahil tidak ada.

Menurut keterangan Raghib orang Isfahan, pakar bahasa yang terkenal, nama yang diberikan untuk Zat Yang Maha Kuasa itu ialah ALLAH. Kalimat ini telah lama dipakai oleh bangsa Arab untuk Tuhan Yang Maha Esa itu. Kalimat ALLAH itu — demikian kata Raghib — adalah perkembangan dari kalimah “AI-Ilah” yang dalam bahasa Melayu Kuno dapat diertikan sebagai Dewa atau Tuhan. Segala sesuatu yang mereka anggap sakti dan mereka puja, mereka sebutkan dia AL-ILAH. Dan kalau hendak menyebutkan banyak Tuhan, mereka pakai kata jama', yaitu AL-ALIHAH. Tetapi dalam fikiran jernih mereka telah sampai kepada kesimpulan bahwa dari tuhan-tuhan dan dewa-dewa yang mereka katakan banyak itu, ada SATU jua Tuhan Yang Maha Kuasa, Maha Tinggi, Maha Mulia. Maka untuk mengungkapkan fikiran kepada Yang Maha Esa itu mereka pakailah kalimat “ILAH” itu, dan supaya lebih khusus kepada Yang Esa itu, mereka cantumkan di pangkalnya ALIF dan LAM pengenalan (Alif-Lam-Ta'rif), yaitu AL menjadi AL-ILAH. Lalu mereka buangkan huruf hamzah yang di tengah, “AL-I-LAH” menjadi “ALLAH”. Dengan menyebut ALLAH itu tidak ada lagi yang mereka maksud melainkan Zat Yang Maha Esa. Maha Tinggi, Yang Berdiri sendirinya itulah dan tidak lagi mereka pakai untuk yang lain. Tidak ada satu berhalapun yang mereka namai ALLAH.

Dalam al-Quran banyak bertemu ayat-ayat yang menerangkan, jika Nabi Muhammad s.a.w. bertanya kepada musyrikin penyembah berhala itu siapa yang menjadikan langit dan bumi dan semuanya ini pasti mereka akan menjawab: "Allah jualah yang menciptakan semuanya!"

ALLAH berfirman maksudnya:
“Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi, dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk-makhlukNya)?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah". Maka bagaimana mereka tergamak dipalingkan (oleh hawa nafsunya daripada mengakui keesaan Allah dan mematuhi perintahNya)? “
[Surah Al-'Ankabuut (29): ayat 61]

ALLAH berfirman maksudnya:
Dan demi sesungguhnya! Jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah!". (Jika demikian) maka bagaimana mereka rela dipesongkan (dari menyembah dan mengesakanNya)? Dan (Dia lah Tuhan yang Mengetahui rayuan Nabi Muhammad) yang berkata: Wahai TuhanKu! Sesungguhnya mereka ini adalah satu kaum yang tidak mahu beriman (maka terserahlah kepadaMu untuk mengadilinya)!"
[Surah Az-Zukhruf 43: ayat 87-88]

ALLAH berfirman maksudnya:
“Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah". Ucapkanlah (wahai Muhammad): "Alhamdulillah" (sebagai bersyukur disebabkan pengakuan mereka yang demikian - tidak mengingkari Allah), bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui (hakikat tauhid dan pengertian syirik).
[Surah Luqman (31): ayat.25]

Setelah kita tinjau keterangan Raghib al-Isfahani dari segi pertumbuhan bahasa (filologi) tentang kalimat “Allah” itu, dapatlah kita ketahui bahwa sejak dahulu orang Arab itu di dalam hati sanubari mereka telah mengakui Tuhan Yang Esa, sehingga mereka sekali-kali tidak memakai kalimat “Allah” untuk yang selain daripada Zat yang Maha Esa, Yang Tunggal, Yang Berdiri SendiriNya itu. Dan mereka tidak menyebutkan Allah untuk beratus-ratus berhala yang mereka sembah. Tentang peng-Esa-an mereka dengan penciptaan ALLAH, kerajaan ALLAH dan pertadbiran ALLAH, mereka telah bertauhid, cuma tentang penyembahan yang mereka masih musyrik (menyekutukan ALLAH dengan berhala-berhala dan tuhan-tuhan lain). Maka ALLAH mengutuskan Muhammad saw sebagai Rasul membangkitkan kesadaran mereka supaya bertauhid yang penuh; mengakui hanya SATU Tuhan yang menciptakan alam dan Tuhan Yang Satu itu sajalah yang patut disembah, tidak yang lain.

Dalam bahasa Melayu kalimat yang seperti “Ilah” itu ialah dewa dan tuhan. Pada batu bersurat Terengganu yang ditulis dengan huruf Arab, kira-kira tahun 1303 Masehi, kalimat ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala telah diartikan dengan “Dewata Mulia Raya”. (Batu bersurat itu sekarang disimpan di Muzium Kuala Lumpur). Lama-lama, karena perkembangan pemakaian bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, maka bila disebut istilah “Tuhan” oleh kaum Muslimin di Alam Melayu, yang dimaksudkan ialah TUHAN ALLAH dan dengan huruf latin permulaannya huruf “T” ditanda dengan huruf besar dan istilah dewa tidak digunapakai lagi untuk mengungkapkan Tuhan Allah. Istilah “tuhan” dengan huruf latin huruf “t” ditanda dengan huruf kecil tidak merujuk kepada ALLAH.

Dalam perkembangan memakai bahasa ini, di dalam memakai kalimat TUHAN, haruslah diingat bahwasanya berbeza maksud pemakaian itu di antara orang Islam dengan orang Kristian.

Kita orang Islam jika menyebut “Tuhan”, yang kita maksud ialah hanya ALLAH. Zat Yang Berdiri SendiriNya, kepadaNya memohonkan segala sesuatu, Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan, dan tidak ada yang menandingi Dia sesuatu juapun. Tetapi kalau orang Kristian menyebut “Tuhan”, yang mereka maksud ialah Jesus Crist. Kadang-kadang bercampur-baur; sebab menurut ajaran yang mereka pegang, bahwa “Tuhan” itu adalah "Triniti", atau "Tri-tunggal", yang tiga tetapi satu, yang satu tetapi tiga. Dia yang tiga tetapi satu itu ialah “Tuhan Bapa”, “Rohul-Kudus” dan “Tuhan Putera (Isa Almasih)” dan selalu mereka mengatakan "Tuhan Jesus".

Sebab itu walaupun orang Islam dan orang Kristian sama-sama memakai kata “TUHAN”, tidaklah sama arti dan pengertian yang dikandung.

Pemakaian kalimat Tuhan dalam kata sehari-hari akhirnya terpisah pula menjadi dua; “Tuhan khusus untuk Allah” dan “tuan untuk menghormati sesama anusia”. Untuk raja disebut Tuanku.

Yang terpenting terlebih dahulu ialah memupuk perhatian yang telah ada dalam dasar jiwa manusia adalah, “bahwa Zat Yang Maha Kuasa (ALLAH) itu mustahil berbilang. Adapun tentang pemakaian bahasa terhadapNya, dengan nama apa Dia (ALLAH) mesti disebut, terserahlah kepada perkembangan bahasa itu sendiri.

Selain dari pemakaian bahasa Melayu tentang Tuhan itu, sebahagian bangsa kitapun memakai juga kalimat lain untuk Allah itu. Dalam bahasa Jawa terhadap Allah disebut “Gusti Allah”, padahal dalam bahasa Melayu Banjar, Gusti adalah gelar bangsawan. Dalam bahasa Malaysia, Gusti adalah sejenis sukan, langsung tak ada kaitan!!
Demikian juga kalimat “Pangeran” untuk Allah dalam bahasa Sunda, padahal di daerah lain, maksud Pangeran adalah gelaran orang bangsawan atau anak raja.

Dalam bahasa Bugis dan Makassar disebut “Poang Allah Ta'ala”. Padahal kepada raja atau orang tua yang dihormati mereka mengucapkan “Poang” juga.

Orang Hindu-Bali, meskipun mereka menyembah berbagai berhala, namun mereka tetap percaya kepada “Sang Hyang Widhi, ertinya Yang Maha Esa. Kepercayaan agama Hindupun sampai kepada puncak tertinggi sekali, iaitu kepada “Sang Hyang Tunggal”.

Lantaran itu dapatlah difahami keterangan Raghib al-Isfahani, pakar bahasa yang menyatakan bahwa ALLAH itu berasal dari kalimat AL-ILAH yang bererti “Tuhan” itu. Adanya kalimat “Al-Ilah” membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan tentang adanya Tuhan telah tumbuh sejak manusia berakal, dan timbulnya kalimat ALLAH membuktikan bahwa fikiran manusiapun akhirnya sampai kepada, bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa itu hanyalah TUHAN YANG SATU. Maka kedatangan Agama Islam ialah membimbing dan menjelaskan bahwa DIA memang SATU adanya.

Setelah itu diiringkanlah menyebut nama ALLAH itu dengan menyebut sifatNya, yaitu, AR -- RAHMAN dan AR —RAHIM. Yang kedua nama sifat itu adalah dari satu rumpun, yaitu RAHMAT, yang bererti murah, kasih-sayang, cinta, santun, perlindungan dan sebagainya.

Apa sebab maka kedua sifat itu yang terlebih dahulu dijelaskan sebelum menyebut sifat-sifatNya yang lain??

Hal ini dapatlah difahami jika kita kaji pengkhayalan orang yang masih sederhana peradabannya (primitif) tentang Tuhan. Sebagai kita katakan tadi, kepercayaan akan adanya Zat Yang Maha Kuasa, adalah sama tumbuh dengan akal manusia. Setiap manusia yang diberikan Gharizatul Tadayyun (Naluri Menyembah). Tetapi sebagian besar mereka menggambarkan Tuhan itu sebagai sesuatu yang amat ditakuti, atau tuhan itu menakutkan, seram dan kejam yang orang terpaksa memujanya oleh kerana akan murkanya. Lalu diadakan korban-korban sembelihan, sama ada haiwan-haiwan atau anak-anak gadis suci untuk dijadikan korban kepada tuhan, sebab tuhan itu kehausan darah, lalu didirikan patung-patung berhala yang bentuknya sangat seram, matanya terbeliak, taringnya terulur keluar, yang tidak reda murkanya kalau tidak diberi korban.

Maka seketika bacaan dimulai dengan menyebut nama Allah, dengan kedua sifatNya Yang Rahman dan Rahim, mulailah Nabi Muhammad saw menentukan perumusan baru dan yang benar tentang Tuhan. Sifat utama yang terlebih diketahui dan dirasakan oleh manusia ialah bahwa DIA Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Dengan nama ALLAH, Tuhan Yang Maha Pemurah Murah dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya, maka Muhammad s.a.w. sebagai UtusanNya, telah menyampaikan seruan kepada manusia. Yang lebih dahulu mempengaruhi jiwa manusia ialah “bahawa Allah itu Tuhan Yang Pemurah dan Penyayang, bukan tuhan Pembenci dan Pendendam, bukan tuhan kehausan kepada darah haiwan korban atau gadis-gadis korban, bukan tuhan pembengis dan bukan tuhan yang menakutkan”.

Dan contoh yang diberikan Nabi Muhammad saw itu pulalah yang perlu kita ikuti, iaitu rnemulai segala pekerjaan dengan nama Allah, yang empunya beberapa sifat Yang Mulia, di antaranya ialah Rahman dan Rahim. Maka di dalam bacaan itu tersimpullah suatu pengharapan atau doa moga-moga apa yang kita kerjakan akan mendapat kurnia Rahman dan Rahim dari Tuhan. ALLAH, Dia lah Tuhan yang memerintahkan kepada manusia supaya melakukan perkara yang baik, dan menjauhkan manusia melakukan perkara yang buruk.
KESIMPULAN:
Wahai kaum muslimin, sedarlah bahawa tugas Negara bukannya menghalang manusia daripada menyebut kalimah ALLAH, alangkah peliknya tindakan yang dilakukan oleh Pemimpin-Pemimpin UMNO yang sekular dan juga Pemimpin-pemimpin PAS yang mengaku memperjuangkan Islam - menghalang manusia daripada menyebut nama ALLAH!!

Wahai saudaraku, sedarlah tugas Negara Islam adalah MENERAPKAN PENYELESAIAN DARI ISLAM KE ATAS UMAT MANUSIA, MENJAGA AKIDAH DARIPADA MURTAD dan MENGEMBANG CARA HIDUP ISLAM KE SELURUH DUNIA.

(PERTAMA:) Menerapkan penyelesaian dari Islam ke atas umat manusia: dengan Penguatkuasaan undang-undang yang datangnya daripada ALLAH. Tetapi sekarang ni Malaysia menerapkan undang-undang berdasarkan Hukum Lord Reid, Malaysia ni buat undang-undang di Parlimen. Apakah hukum mencuri di Malaysia? Apakah hukum berzina di Malaysia? Apa hukum minum arak di Malaysia? Apa hukum mengambil riba di Malaysia? Apakah hukum mendirikan kilang arak, pusat judi, pub-pub dan disko-disko di Malaysia? Apakah Isu orang kafir menggunakan nama ALLAH ini kalian sensitif, tetapi segala macam maksiat lain kalian tidak sensitif??

Tugas Negara seterusnya adalah (KEDUA ) Menjaga Akidah Islam dengan penerapan hukum bunuh (termasuk dalam Hukum Hudud) bagi orang-orang murtad. Apakah hukuman di Malaysia ini terhadap orang yang murtad? Jika kalian begitu sensitif dan sanggup berdemonstrasi terhadap orang kafir yang menggunakan nama ALLAH, apakah kalian tidak sensitif terhadap orang islam yang mensyrikkan ALLAH?, lebih teruk dosa mensyirikkan ALLAH daripada orang yang menyebut nama ALLAH. Kenapa kalian tidak sensitif? Kes Lina Joy, kes Fatimah Tan dan ramai lagi kes-kes orang yang menunggu untuk murtad dengan kebenaran Mahkamah di Malaysia. Apa tindakan Negara dalam menjaga akidah islam? Apa tindakan Negara dalam menjaga Agama ALLAH daripada dihina oleh orang kafir??

Dan Tugas terakhir Negara (KETIGA) adalah mengembangkan cara hidup Islam keseluruh alam melalui Jihad Futuhat (Jihad Pembebasan Negara Kufur kepada Negara Islam). Wahai saudaraku, Islam yang sampai kepada kalian melalui dakwah dan jihad para pejuang-pejuang islam dahulu. Mereka membuka kawasan-kawasan yang dahulunya dikuasai oleh orang kafir supaya kawasan tersebut tunduk dan berada dalam daulah islam. Hasil daripada usaha penat dan lelah para pengembang dakwah islam yang dilakukan oleh umat terdahulu pada zaman Daulah Khilafah Ar-Rashidin, Khilafah Umayyah, Khilafah Abbasiyyah dan Khilafah Uthmaniyyah menyebabkan Islam menguasai 2/3 dunia dan islam tersebar ke seleruh pelusuk alam ini. Sekarang, ada tak pemimpin umat islam ini melakukan Jihad Futuhat untuk menyebarkan islam? Mengapa kalian sensitif orang kafir menyebut nama ALLAH tetapi kalian langsung tidak sensitf Negara tidak melakukan Jihad Futuhat padahal itu kewajipan Negara?? Apakah kalian mengambil agama Islam separuh-separuh??

pemimpin Hari ini


Ditambah pada 16hb Januari

pemikiran cemerlang



Saturday, 19 December 2009

Sejarah Hak Cipta dan Huraiannya





Umat Islam hari ni masih keliru dengan hukum hak cipta yang diamalkan sekarang. malahan
ada ulama dan alim yang mengatakan hak cipta adalah selari dengan Islam, sebagaimana
mereka mengatakan demokrasi itu sendiri ada dalam Islam. Sesungguhnya tidak ada satupun ayat quran atau hadith yang membenarkan hak cipta. Tapi bagaimanakah ada sebahagian alim yang membenarkannya?

Sejarah Hak Cipta

Hak cipta (copyright) ialah satu bentuk harta intelektual yang memberi hak ekslusif kepada penulis asalnya untuk tempoh masa tertentu berhubung dengan hasil kerjanya, termasuklah pengeluarannya, pengedarannya dan pengambilan isi-isinya yang berkuatkuasa selepas hasil kerjanya itu memasuki dunia awam. Hak cipta telah diasaskan bersama Statute of Anne di Britain, yang bertujuan untuk mempromosi sains dan seni yang berguna dengan melindungi hasil kerja tersebut dengan memberikan hak ekslusif kepada penulis dan penciptanya.

Kenapa Hak Cipta?

Apa yang selalu dibimbangkan mengenai pengedaran atau peniruan sesuatu hasil kerja ialah manfaat atau lebih mudah dikatakan wang yang diperoleh ditakuti akan merosot kerana hasil
kerja yang sama boleh diperoleh di satu tempat lain dengan harga yang lebih murah. Di sini ana ingin mengupas satu demi satu hal-hal yang berkaitan dengan hak cipta dan perbandingannya dengan Islam.

1) Hak cipta pada asalnya lebih ditekan oleh pihak penerbit berbanding pihak penulis atau pencipta kerana lebih menguntungkan pihak penerbit. Berdasarkan fakta bahawa penerbit-penerbit kini biasa memperoleh hak cipta daripada pengarang sebagai syarat untuk menerbitkan karya mereka, salah satu daripada kritikan sistem terkini adalah bahawa undang-undang hak cipta lebih memanfaatkan penerbit berbanding pengarangnya.

2) Royalti merupakan perkara yang utama yang diinginkan oleh pihak yang menekankan hak cipta. Hal ini jelas membuktikan pengaruh kapitalis dalam minda mereka. sesuatu yang dihasilkan diberi penekanan ke atas manfaat atau faedah kepada diri sendiri, berbanding faedah
kepada yang akan diperolehi umat. Islam tidak menyekat perkembangan ilmu malah menggalakkan lagi perkembangan ilmu. Hal yang terjadi hari ini amat berbeza dengan apa yang dilakukan oleh ilmuwan Islam terdahulu. Para ilmuwan Islam (ada yang ditaja oleh khilafah) berusaha mencari ilmu dan meneroka bidang-bidang baru kerana inginkan manfaatnya diperoleh umat atau dengan kata lain untuk kemaslahatan umat. Dan umumnya diketahui bahawa ilmuwan Islam kebanyakan daripada mereka adalah orang miskin dan mereka tidak menjadi kaya secara tiba-tiba dengan ilmu yang mereka peroleh. berdasarkan fakta ini, kita boleh lihat bahawa ilmuwan Islam zaman khilafah tidak memandang wang sebagai sandaran kepada apa yang mereka lakukan. Sebagai contoh, Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler mencipta mikroskop serta teleskop. Ia merupakan orang pertama yang menulis dan menemui pelbagai data penting mengenai cahaya. ibn haitham juga dikenali sebagai orang yang miskin dari segi material, tetapi tidak dari segi ilmu yang dimilikinya. hal ini cukup membuktikan bukan wang yang ingin diperoleh, tetapi redho Allah yang ingin dikecapi dengan memberikan jalan untuk kemaslahatan manusia. tidak pernah tercatatdi dalam lembaran sejarah bahawa Ilmuwan Islam zaman dahulu bangkit dan marah kerana hasil kerja mereka dipelajari barat malahan Umat Islam berbangga kerana umat lain menghormati kaum Muslim kerana kejayaan para ilmuwan Islam.

3) Pandangan yang menyokong Hak Cipta dan mengatakan hak cipta selari dengan Islam adalah mereka yang mengatakan bahawa hukum tentang hak cipta digali daripada kemaslahatan umum (maslahah mursalah) padahal jelas pada kita bahawa sumber hukum dalm Islam hanyalah Quran, sunnah, dan ijma' sahabat. Ada juga mengatakan Hukum Islam menempatkan adat dan opini publik sebagai salah satu sumber hukumnya, bila tidak bertentangan dengan ketentuan umum hukum Islam. yang ini lebih mengelirukan umat kerana mengatakan hukum Islam itu diperoleh daripada adat dan opini publik. Bolehkah deen yang datang dari wahyu ini diambil hukumnya berdasarkan adat yang dicipta manusia dan pandangan majoriti manusia biasa?

4) Ada juga mengatakan membuat salinan sesuatu barang yang mempunyai hak cipta umpama mencuri hak pencipta barang tersebut. Hal ini merupakan satu fakta yang kelakar. Jadi bagaimana kalau kita membeli CD lagu lalu kita membuat salinan lain? CD itu dibeli bukan dicuri. Jika akadnya sah, maka segala apa yang kita beli dalam CD itu semuanya jadi hak kita, bukan lagi hak pencipta lagu itu. jadi apa hak pencipta lagu itu untuk menghalang kita melakukan apa-apa kepada isi CD tersebut? Jadi istilah cetak rompak itu tidak ada dalam Islam tetapi cetak rompak itu merupakan istilah yang dicipta para kapitalis untuk memastikan mereka berterusan berenang dalam lautan wang ringgit.

5) kalau kita melihat kitab-kitab ilmu yang ditulis oleh imam-imam terdahulu yang sekarang telah dicetak berulang kali, ada tak mereka berfikir tentang hak cipta atau menulis hukum tentang idea hak cipta? kalau betul mereka mengamalkan hukum hak cipta ni, tak bolehlah cetak kembali karya ulama-ulama terdahulu kerana mereka semua sudah mati! Bagaimana nak minta izin pada ulama2 tersebut? adakah di bawah kulit kitab almuwatta' karya imam malik tertulis 'hak cipta terpelihara'? Tidakkah ini satu lagi fakta yang kelakar?

6) para tabiin, tabi't tabi'in dan ulama'-ulama' terdahulu tidak pernah membincangkan idea hakcipta terpelihara, padahal mereka ialah orang-orang yang alim lagi memahami tentang hukum mencuri atau merampas hak orang lain dalam Islam. Ulama zaman sekarang hanya mula membincangkan setelah akidah sekular kapitalis mula membawa masuk idea hak cipta ini dan mempengaruhi umat Islam untuk menyekat perkembangan ilmu.

untuk menyelesaikan masalah Hak Cipta ini bukanlah semudah ABC melainkan akar-akar sekular kapitalis ini dicabut dan dibersihkan dengan sebersih-bersihnya. Kerana selagi dalam pemikiran manusia itu mencari dan mengkaji ilmu kerana duit, mencipta sesuatu teknolgi baru kerana duit, buat CD nasyid kerana duit, maka idea hak cipta ini akan terus subur dan mekar dalam kotak pemikiran mereka kerana apa yang paling dirisaukan ialah duit. Jika khilafah yang akan menjalankan hukum syara' secara kaffah tertegak kembali, nescaya umat tidak lagi menjadikan duit sebagai sandaran bagi apa yang mereka kerjakan, melainkan redho Allah semata-mata. jadi memyelesaikan masalah hak cipta tapi kapitalism masih lagi dipegang erat dan dijunjung umpama melakukan perkara yang sia-sia. hanya Islam yang kaffah sebagai jalan keluarnya.

Tiada Lagi Alasan Untuk Membedah Mayat kaum Muslimin!

Menuju Kebangkitan Syabab ul-Islam






Sekumpulan doktor dari Switzerland kini melakukan bedah siasat atau autopsi tanpa membedah tubuh si mati. Ini kerana mereka menggunakan pengimbas tiga dimensi (3D) yang boleh mengesan sehingga 80 peratus punca kematian berdasarkan laporan Reuters baru-baru ini.
Michael Thali, seorang profesor di University of Berne, Switzerland dan rakan-rakan sekerjanya telah membangunkan satu sistem yang dinamakan virtopsi. Ia sebenarnya telah digunakan sejak tahun 2006 untuk memeriksa si mati yang mati secara mengejut atau punca yang aneh.
"Tanpa membuka atau memotong tubuh badan, kami boleh mengesan 60 hingga 80 peratus kecederaan dan punca kematian," terang Thali yang berdiri di sebelah pengimbas itu di makmalnya.
Kelebihan autopsi maya itu ialah ia bersifat digital, mempunyai rekod tetap yang dicipta untuk membolehkan perkongsian menerusi Internet.
Semasa autopsi yang mengambil masa kira-kira 30 minit, si mati diletakkan di atas meja pemeriksaan manakala permukaan pengimbasnya yang lebih besar daripada kotak dihubungkan dengan lengan robotik yang menjejaki kontur seluruh tubuh.
Dua juruteknik yang berpakaian kot putih kemudian menggunakan komputer untuk menilai penemuan.
"Pada masa ini hanya kami di dunia ini yang menggabungkan imbasan permukaan dengan imbasan bergema magnetik CT, bedah siasat angiografi dan bedah siasat biopsi," kata Thali yang memberitahu kos pemasangannya lebih daripada AS$1.98 juta (RM6.7 juta).
Pengimbas CT membentuk imej kecederaan tengkorak manakala pengimbas magnetik mengeluarkan imej-imej tisu yang lebih halus, kata Thali. Angiografi pula memberikan visual dalaman kapilari darah.
"Ia mempunyai kelebihan yang besar kerana anda tidak perlu merosakkan tubuh si mati dan anda boleh melihatnya dalam bentuk 3D dan lakukan analisis," kata Thali. -Kosmo online-


Komentar:

Terdapat dua pendapat tentang autopsi, iaitu ada yang menghalalkan kerana kemaslahatan dan ada yang mengharamkan autposi kerana mencabul kehormatan si mati. Tentang pendapat membolehkan autopsi, ini pendapat Hasanain Makhluf, Said Ramadhan Al-Buthi, dan beberapa lembaga fatwa seperti Majma' Fiqih Islami OKI, Hai`ah Kibar Ulama (Saudi), dan Fatwa Lajnah Da`imah (Saudi). (As-Sa'idani, Al-Ifadah Al-Syar'iyah fi Ba'dh Al-Masa`il Al-Thibiyah, h. 172; As-Salus, Mausu`ah Al-Qadhaya Al-Fiqhiyah Al-Mu'ashirah, h. 587; Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 170; Al-Hazmi, Taqrib Fiqh Al-Thabib, h. 90).

Adapun pendapat kedua, iaitu mengharamkannya ialah pendapat Taqiyuddin An-Nabhani, Bukhait Al-Muthi'i, dan Hasan As-Saqaf. (Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 170; Nasyrah Soal Jawab, 2/6/1970). Hal ini didasarkan kepada hadith "Memecahkan tulang mayat sama dengan memecahkan tulangnya saat dia hidup." (kasru 'azhmi al-mayyit ka-kasrihi hayyan). (HR Abu Dawud, sahih).

Jundu asy-Syabab mengambil pendapat kedua adalah pendapat yang lebih rajih termasuk autopsi yang dijalankan oleh para doktor pelatih kerana;

  •  Pendapat yang membolehkan berdalil kemaslahatan (Mashalih Mursalah), padahal Mashalah Mursalah bukan dalil syar'i yang kuat. Menurut Imam An-Nabhani, Mashalih Mursalah tidak layak menjadi dalil syar'i. (An-Nabhani, Al-Syakhshiyah Al-Islamiyah, 3/444).
  • Terdapat hadis-hadis sahih yang melarang melanggar kehormatan mayat, seperti mencincang, menyayat, atau memecahkan tulangnya sebagaimana di atas.
Namun, keharaman otopsi ini hanya untuk mayat muslim. Sedang jika mayatnya non muslim, hukumnya boleh. (Al-Syinqithi, Ahkam Al-Jirahah Al-Thibiyah, h. 179; Nashiruddin Al-Albani, Ahkam Al-Jana`iz, h. 299). Sebab di samping hadis dengan lafal mutlaq (tak disebut sifatnya, yaitu semua mayat), ternyata ada hadis sahih dengan lafal muqayyad (disebut sifatnya, yaitu mayat mu`min/muslim), yakni sabda Nabi SAW, "Memecahkan tulang mu`min yang sudah mati, sama dengan memecahkannya saat dia hidup." (kasru 'azhmi al-mu`min maytan mitslu kasrihi hayyan.) (HR Ahmad, no 23172 & no 25073; Malik, Al-Muwathha`, 2/227; Ad-Daruquthni, 8/208; Ibn Hajar, Fathul Bari, 14/297; at-Thahawi, Musykil Al-Atsar, 3/281; Al-Albani, Shahih wa Dhaif Al-Jami' Ash-Shaghir, 9/353). Kaidah ushuliyah menyebutkan, "Lafal mutlak tetap dalam kemutlakannya hingga datang lafal yang muqayyad." (Al-muthlaqu yabqa 'ala ithlaaqihi maa lam yarid dalil at-taqyid).

Kesimpulannya, autopsi hukumnya haram jika mayatnya muslim. Tetapi jika mayatnya non muslim, hukumnya boleh (sumber: khilafah1924.org). Mengenai penemuan teknolgi yang canggih seperti di atas, maka mayat muslim tidak perlu dibedah lagi, bersesuaian dengan pendapat yang rajih yang telah digali kerana teknologi tersebut boleh membantu para doktor untuk mengenal pasti punca kematian atau perkara yang berkaitan tanpa perlu membedah secara fizikal ke atas si mati. Wallahua'lam bissowab.

Bila Pula Operasi Menghalau Tentera AS?


PDF Print E-mail
altOperasi di Waziristan Selatan dihentikan

ISLAMABAD 12 Dis. - Pakistan telah menamatkan operasi tenteranya di Waziristan Selatan bagi memburu militan Taliban, dan akan meneruskan usaha menghapuskan militan di wilayah puak Orakzai, terletak jauh di utara negara ini.

"Operasi di Waziristan Selatan telah ditamatkan. Kini kita akan bercakap tentang Orakzai,'' kata Gilani kepada pemberita dari timur bandar Lahore, namun beliau tidak memberikan maklumat lanjut.

Tentera Pakistan melancarkan serangan darat ke atas militan Taliban di Waziristan Selatan pada pertengahan Oktober lalu yang mencetuskan tindakan balas daripada kumpulan militan yang melakukan lebih banyak serangan bom ke atas kemudahan strategik di Pakistan termasuk balai polis dan bangunan-bangunan kerajaan di seluruh negara ini.

Sebanyak 30,000 tentera Pakistan terlibat dalam operasi ketenteraan di Waziristan Selatan dan ramai militan dipercayai lari ke kawasan kabilah lain terutamanya di Waziristan Utara dan Orakzai. - AP
Sumber : Utusan Malaysia, 13/12/2009

Bila Pula Operasi Menghalau Tentera AS?

Sejak Oktober lalu, tentera Pakistan terus melancarkan serangan ofensif ke atas kedudukan Taliban di selatan Waziristan. Serangan ini telah dijalankan kononnya untuk menghapuskan “ancaman luar” terhadap Pakistan. Sebelum itu, operasi  di Lembah Swat menyaksikan beribu-ribu umat Islam menjadi pelarian di bumi sendiri. Angka korban pembunuhan besar-besaran ke atas umat Islam ini bukanlah dilakukan oleh puak kuffar, tetapi dilakukan oleh tangan-tangan pemimpin kaum Muslimin sendiri. Kenapa ini boleh berlaku walhal musuh sebenar umat Islam adalah kaum kuffar? Perkara ini berlaku apabila pemimpin yang ada merupakan pemimpin yang mencari keredhaan musuh-musuh Islam seperti Amerika Syarikat dan bukannya mencari keredhaan Allah.  Di tambah pula dengan semangat assobiyyah di hati mereka menjadikan pembunuhan atas saudara seagama menjadi perkara yang tidak dirasakan keji.
Allah telah berfirman di dalam Al Quran :

“Barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahanam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [TMQ Al-Nisa’ (4):93]

Operasi yang dilakukan pihak tentera Pakistan ini pastinya amat mendukacitakan. Muncung senapang yang sepatutnya dihalakan kepada tentera Amerika Syarikat (AS) dan sekutunya telah beralih kepada saudara sendiri. Ini lebih-lebih lagi dengan pengumuman  Presiden AS, Barack Obama yang akan menghantar askar tambahan sebanyak 30,000 orang ke Afghanistan.  Pastinya situasi ini akan menjadikan umat Islam di sana semakin tersepit. Apa yang jelas, tindakan Pakistan ini adalah umpama “menyediakan karpet merah” untuk tentera AS yang akan tiba di Afghanistan, ‘mengurangkan’ risiko AS daripada ancaman para Mujahideen.

Sampai bilakah kita hendak melihat pemimpin-pemimpin kaum Muslimin ini terus mengkhianati  umat Islam? Tidakkah kita mahu melihat seorang pemimpin umat Islam yang berani, yang akan melancarkan jihad ke arat Amerikan dan menghalau seluruh tentera Amerika dari tanah-tanah kaum Muslimin? Ini pastinya tidak akan berlaku selama mana sistem yang mengatur urusan umat Islam sekarang bukannya sistem yang diturunkan oleh Allah.  Tanpa sang khalifah yang akan menerapkan sistem Islam ke atas seluruh umat dan melancarkan jihad melawan musuh-musuh Islam, umat Islam akan terus tersepit dan terus diperkotak-katikkan.

Rasulullah SAW bersabda: “Bahawasanya Imam itu bagaikan perisai, dari belakangnya umat berperang dan dengannya umat berlindung.”  [HR. Muslim]
 

OIC Bukan Platform Penyatuan Ummah


PDF Print E-mail

altOIC gagal menyatukan ummah

KUALA LUMPUR 15 Dis. - Pertubuhan bukan kerajaan (NGO) dari negara Islam disaran menyatupadukan umat Islam di seluruh dunia memandangkan Pertubuhan Persidangan Islam (OIC) gagal melaksanakan tanggungjawab itu.

Bekas Perdana Menteri, Tun Dr. Mahathir Mohamad berkata, rangkaian NGO dari negara Islam di seluruh dunia boleh menjadi pemangkin kepada perpaduan ummah masa depan.

"Jika kerajaan Islam (dalam OIC) tidak dapat mewujudkan satu perpaduan ummah dan usaha individu adalah terlalu kecil untuk memberi sebarang kesan, kenapa tidak umat Islam memilih NGO untuk mencapai matlamat bersatu padu.

"NGO Islam yang bersatu padu ini perlu berkempen dari semasa ke semasa mengenai kepentingan memiliki pendidikan sempurna sebagai kewajipan umat Islam," katanya.

Dr. Mahathir menyampaikan ucaptama pada Konvensyen Kedua Uniti Muslim anjuran NGO Islam dari United Kingdom (UK), Yayasan Ramadhan di Pusat Dagangan Dunia Putra (PWTC) di sini hari ini.

Jelas beliau, NGO Islam juga perlu melaksanakan kempen menghentikan pemikiran segelintir umat Islam yang sentiasa ingin membalas dendam kepada musuh Islam sehingga mengambil pelbagai tindakan secara membuta tuli.

"... Di negara-negara yang diceroboh, rakyatnya dipenjara dan diseksa sementara beratus-ribu lagi dibunuh dalam peperangan yang tidak adil.

"Umat Islam yang marah meluahkan rasa marah kepada semua orang termasuk masyarakat Islam lain. Mereka letupkan diri sendiri untuk membalas dendam dan membunuh namun tidak banyak musuh Islam yang menjadi mangsa melainkan masyarakat mereka sendiri," katanya.

Kata Dr. Mahathir, selepas kehilangan nyawa, tidak ada apa yang mereka peroleh dari semua perbuatan tersebut.

"Dan semua perbuatan tersebut sedikit pun tidak menghalang musuh umat Islam ini daripada terus menindas dan membunuh," katanya.

Justeru, tambah Dr. Mahathir, umat Islam perlu berfikir, merancang dan merangka strategi supaya pengorbanan yang mereka lakukan jika perlu adalah berbaloi.

"NGO perlu menggalakkan perpaduan masyarakat Islam demi mempertahankan ummah.
"Namun jika kita gagal menjadikan seluruh umat Islam bersatu kita perlu bersedia untuk menerima perpaduan sebahagian daripada umat Islam sahaja," katanya.

Konvensyen yang dirasmikan Dr. Mahathir itu hari ini akan berakhir esok.
Ia menghimpunkan lebih 500 ulama dari 20 negara yang akan berkongsi pandangan mengenai perpaduan umat Islam.

Sebelum ini Konvensyen Uniti Muslim pertama berlangsung di Manchester, UK) pada 2005.

Sumber : Utusan Malaysia, 16/12/2009

OIC bukan platform penyatuan Ummah

Ya, memang benar OIC tidak dapat menyatukan ummah. Ikatan dasar yang membentuk keahlian OIC merupakan ikatan yang batil, iaitu ikatan negara bangsa dan bukannya  berdasarkan ikatan aqidah Islam. Mana mungkin ikatan dasar yang batil ini membuahkan sesuatu yang benar. Inikan pula untuk menyatukan umat Islam yang telah berpecah-belah dipisahkan oleh sempadan yang dilakarkan oleh penjajah. Sudah berbakul-bakul resolusi, sudah bekoyan-koyan wang rakyat dihabiskan untuk penganjuran persidangan, namun hasilnya cumalah air liur basi  yang tidak bermakna.

Seruan menghentikan pemikiran dendam oleh umat Islam terhadap musuh-musuh Islam oleh Tun Dr.Mahathir merupakan seruan yang bertentangan dengan sifat kaum kuffar terhadap umat Islam. Ini telah dijelaskan oleh Allah di dalam Al Quran :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (kerana) mereka ini tidak henti-henti (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [TMQ Ali Imran (3):118].

Sebagai umat Islam yang menjadikan Islam sebagai ideologi untuk memandu mereka, sudah semestinya ayat ini perlu difahami dengan jelas agar jangan sampai ada yang menyeru kepada suatu yang bertentangan dengan ayat Allah ini. Namun, apa yang berlaku amatlah menyedihkan. Sudahlah platform penyatuan salah, ditambah pula dengan seruan yang salah, pastilah akan memberi natijah yang salah. Seruan yang sepatutnya dilontarkan oleh Tun Dr Mahathir beserta lebih 500 ulama itu adalah seruan penyatuan seluruh kaum Muslimin di bawah naungan Daulah  Khilafah. Sudah tiba masanya kita mencampakkan OIC ke dalam lohong sejarah kegagalan manusia dan membuka lembaran baru kekhilafahan yang akan memayungi seluruh umat Islam.